Mengapa setiap bangun tidur pinggang selalu sakit

HerStory, Jakarta —

Setiap orang yang tidur berharap mendapatkan tubuh yang segar dan bugar saat bangun. Namun, masih ada beberapa orang yang justru merasa sakit pinggang saat bangun tidur.

Bangun dengan sakit pinggang dapat membuat hari seseorang menjadi lambat dan enggak bersemangat menjalani aktivitas. Kamu tahu enggak apa penyebab seseorang bangun dengan keadaan sakit pinggang?

Melansir dari laman Healthline, berikut ini beberapa penyebab sering sakit pinggang saat bangun tidur. Yuk, simak baik-baik, ya!

Degenerative disc disease

Degenerative disc disease atau erthritis tulang belakang merupakan penyempitan kanal tulang belakang lumbar yang terjadi seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini dapat menekan saraf tulang belakang dan mengakibatkan rasa sakit, kekakuan, dan mobilitas berkurang yang biasanya memengaruhi punggung bawah leher.

Baca Juga: Sudah Tidur Cukup, tapi Tetap Merasa Capek? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiahnya!

Baca Juga: Jangan Sampai Lupa, Beauty! Biasakan Mulai Hari dengan Air Putih Yuk, Rasakan Khasiat Luar Biasanya

Para ahli menyarankan orangorang yang mengalami nyeri pinggang lebih dari 60 menit dengan gejala kaku di pagi hari, terutama saat bangun tidur, untuk mewaspadai kemungkinan gejala awal nyeri pinggang inflamasi,apalagi bila itu terjadi selama hingga tiga bulan.

Dokter spesialis ilmu penyakit dalam divisi reumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RS Hasan Sadikin, Bandung, Laniyati Hamijoyo mengatakan, penderita bisa juga terbangun di malam hari karena rasa sakit atau bangun pagi dengan kondisi pinggang terasa pegal.

“Ketika digerak-gerakkan membaik, kalau munculnya pelan-pelan umumnya pada orang muda berusia di bawah 45 tahun, kalau diberi obat anti nyeri membaik, tetapi kalau setop obatnya sakit lagi. Kalau nyeri pinggang karena inflamasi nyerinya lebih dari 60 menit,” ujar dia dalam webinar “Ada Bambu di Punggungku: Periksakan Dini Nyeri Pinggang, Sebelum Memburuk”, Kamis (28/1).

Kondisi ini berbeda dengan nyeri pinggang pada umumnya (mekanik) yang biasanya berlangsung kurang dari 45 menit dan dialami orang berusia 20-65 tahun.

Nyeri pinggang inflamasi juga disertai gejala lain seperti mata merah, bercak merah di kulit, diare kronis, artritis, sakit di tumit pada pagi hari, jari-jari bengkak dan sakit dan nyeri di tumit bagian belakang.

“Tanda-tanda ini harus kita cari. Kalau ada tanda-tanda ini, biasanya berhubungan dengan suatu spondiloartritis. Kalau lebih lama dibiarkan lalu susah gerakkan leher atau bersandar di tembok kepala tidak bisa menempel lagi, itu harus hati-hati,” tutur Lani.

Dokter spesialis penyakit dalam divisi reumatologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS Cipto Mangunkusumo, Rudy Hidayat, menuturkan, nyeri pinggang inflamasi bisa berkembang menjadi ankilosing spondilitis (AS) yang merupakan kondisi tersering spondiloartritis.

Spondiloartritis yakni nyeri pada sendi sakroiliaka, tulang punggung bawah atau sendi anggota gerak bawah yang bersifat kronik dan disertai manifestasi lain. Kondisi ini juga bisa dialami anak-anak. Gejalanya mencakup mata merah, nyeri sendi, lutut atau pinggang.

Sementara gejala khas AS yakni nyeri pinggang inflamasi, seperti ada bambu di punggung atau bamboo spine yang membuat penderita tidakbisa menggerakkan bagian leher hingga pinggang.

“Kalau bisa jangan sampai terbentuk bamboo spine atau leher hingga pinggang tak bisa digerakkan karena seringkali sudah tidak bisa ditarik mundur (pulih),” tutur dia.

Nyeri pinggang inflamasi apalagi jika sudah masuk AS yang tak ditangani bisa menyebabkan penderita mengalami patah tulang di tulang belakang maupun tulang lain karena peradangan yang tak terkendali. Efek jangka panjang lainnya antara lain: risiko penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat karena memicu aterosklerosis atau pembuluh darah menyempit, penyumbatan pembuluh darah yang bila terjadi dikoroner bisa menyebabkan serangan jantung, sementara di otak dapat memicu stroke.

“Ini bisa terjadi bila kita tidak mengendalikan peradangan yang sebenarnya bukan hanya di tulang belakang, tetapi sistemik sehingga memberikan efek termasuk ke pembuluh darah yang alami penyempitan,” papar Rudy.

Selain itu, penyakit ini juga bisa memicu sindrom lain termasuk nyeri di bagian otot yang berujung semakin memburuknya kualitas hidup pasien.

Pemeriksaan dan Terapi

Pemeriksaan radiografi dan MRI bisa membantu menegakkan diagnosis nyeri pinggang inflamasi termasuk AS yang biasanya baru terdeteksi 8-12 tahun setelah munculnya gejala awal.

“Pasien harus ditemukan ketika di-rontgen belum kelihatan untuk mencegah penyakit tidak berkembang sampai terbentuk bamboo spine atau leher hingga pinggang tak bisa digerakkan. Entry point-nya back pain yang inflammatory,” tutur Rudy.

Sebelumnya, pasien bisa mengidentifikasi beberapa kondisi melalui pertanyaan: apakah nyeri pinggang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan?, apakah nyeri pinggang muncul saat berusia di bawah 45 tahun?.

Kemudian, apakah nyeri tersebut muncul secara bertahap?, Apakah nyeri tersebut membaik apabila Anda beraktivitas?, Apakah nyeri tersebut memburuk apabila Anda duduk lama atau beristirahat?, Apakah nyeri sering muncul pada malam hari? Apabila mayoritas jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ‘YA’, pasien sangat disarankan untuk menemui spesialis, khususnya ahli reumatologi, guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Rudy mengatakan, pemberian terapi yang tepat bisa membantu mengendalikan nyeri serta gejala lain yang dirasakan oleh pasien.

Sebelum terapi, pasien perlu menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengurangi atau berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan yang bergizi,melakukan olahraga ringan sesuai dengan anjuran dokter, dan fisioterapi untuk mengurangi nyeri dan menjaga fleksibilitas tulang belakang serta sendi-sendi yang mengalami peradangan.

“Obat-obatan bagian dokter. Datang ke dokter untuk berkonsultasi agar mendapatkan terapi yang terbaik,” kata dia.

Terapi sederhana yang bisa dilakukan antara lain: posisi seperti duduk bersandar di tembok untuk melatih otot paha dan tulang belakang, posisi seperti push up disanggah dengan siku untuk memperkuat otot dan tulang belakang.

Kemudian, mencoba berdiri dengan kaki di tekuk ke belakang, latihan bahu dan leher dalam posisi duduk, tidur dan berdiri untuk melatih fleksibilitas, berjalan dan bergerak sebanyak mungkin demi menjaga fleksibilitas sendi. Khusus untuk bagian tulang punggung, pasien bisa mencoba latihan bernapas dalam untuk mencegah kekakuan di punggung. (ant)

Editor : Gora Kunjana ()

Sumber : Investor Daily

Kenapa selalu sakit pinggang saat bangun tidur?

Melansir Sleep Foundation, ada beberapa alasan kenapa bangun tidur pinggang bisa sakit, antara lain: Posisi tidur tidak pas atau tidak nyaman. Kasur yang digunakan kurang nyaman, seperti terlalu keras atau terlalu empuk. Kehamilan, biasanya hamil di trimester kedua dan ketiga.

Apa penyebab sakit pinggang pada wanita?

Sakit pinggang bisa terjadi karena berbagai hal, seperti trauma fisik di area pinggang, penyakit ginjal, kelebihan berat badan, kebiasaan mengangkat beban berat, bahkan jarang olahraga.

Apa penyebab sakit pinggang bagian belakang?

Penyebab sakit pinggang belakang yang umum terjadi berkaitan dengan postur atau sikap tubuh dan kebiasaan seseorang. Seseorang yang duduk terlalu lama dan/atau posisi duduknya yang tidak benar dan tidak nyaman bisa menyebabkan rasa sakit di pinggang bagian belakang.

Apa penyebab sakit pinggang terus menerus?

Sakit pinggang paling sering disebabkan oleh cedera otot atau sendi di area pinggang, bisa akibat posisi tubuh yang salah, mengangkat benda berat, atau melakukan gerakan secara berulang. Sakit punggung bawah ini juga bisa disebabkan oleh gangguan pada organ ginjal, infeksi, atau masalah tulang belakang.